Nilai Rupiah Melemah, Bagaimana Dampaknya terhadap UMKM?

Sobat Pajak | 2024-30-05 15:04:09 | 22 days ago
article-sobat-pajak
Nilai Rupiah Melemah, Dampak UMKM

Jakarta - Nilai tukar rupiah sempat anjlok 84 poin atau 0,52% menjadi Rp16.263 per dolar AS dari Rp 16.179 per dolar AS pada pertengahan April 2024. Nilai tukar rupiah yang cenderung terdepresiasi terhadap dolar Amerika tentunya akan memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia, termasuk dampaknya terhadap kehadiran UMKM di Indonesia.

Para pelaku ekonomi dihadapkan pada kenaikan harga bahan baku di pasaran, terutama yang harus mengimpor bahan baku seluruhnya dari luar negeri terpaksa menaikkan harga jual produknya kepada konsumen.

UMKM menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, jumlah UMKM saat ini berjumlah 64,2 juta dengan kontribusi 61,07% terhadap PDB dan berjumlah Rp 8.573,89 triliun. Kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia adalah mampu menyerap 97% dari total tenaga kerja yang ada dan menarik hingga 60,4% dari total investasi.

Namun banyaknya UMKM di Indonesia tidak lepas dari tantangan yang ada. Akibat ketidakpastian perekonomian global, banyak sektor domestik yang terkena dampak depresiasi nilai tukar rupiah. Mulai dari industri skala besar hingga industri skala kecil. Dari infrastruktur skala besar hingga infrastruktur skala kecil. Semua pihak merasakan dampaknya.

 

Faktor-Faktor Penyebab Melemahnya Nilai Rupiah

Terdepresiasinya nilai tukar rupiah dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi melemahnya nilai rupiah:

  • Nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh depresiasi yuan China. Jika mata uang yuan terdepresiasi, maka nilai tukar rupiah bisa terkena dampak buruknya
  • Status rupiah juga dipengaruhi oleh kekuatan dolar AS. Jika dolar AS menguat, aliran masuk dari Pasar Surat Berharga Negara (SBN) bisa menyebabkan rupiah melemah
  • Data inflasi juga mempengaruhi nilai tukar rupiah. Pada bulan Maret 2024, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, terutama pada sektor volatile food, turut berkontribusi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah
  • Depresiasi nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir juga disebabkan oleh ketidakpastian arah suku bunga global. Bank-bank sentral utama di dunia menerapkan kebijakan moneter mereka sendiri dan pendekatan-pendekatan yang berbeda ini dapat berdampak pada nilai tukar rupiah.

 

Dampak Pelemahan Rupiah bagi UMKM

  • Peningkatan impor bahan baku akan mempengaruhi biaya operasional (biaya operasional harian) usaha kecil, menengah, dan mikro. Suku bunga yang lebih tinggi dari bank sentral AS akan memulangkan likuiditas dolar AS dan melemahkan nilai tukar rupiah. Jika dolar menguat terhadap rupiah, maka UMKM yang mengimpor bahan baku akan menghadapi tekanan kenaikan harga yang tajam.
  • Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menjaga inflasi dan nilai tukar dengan menaikkan suku bunga akan meningkatkan biaya pinjaman UMKM bagi UMKM. Hal ini membuat UMKM kesulitan mendapatkan pinjaman perbankan karena harus bergantung pada agunan. Akibatnya, UMKM kesulitan menggalang dana untuk mengembangkan usahanya sehingga berdampak negatif pada keuntungannya. Selain itu, UMKM juga mungkin menghadapi kebingungan mengenai ekspansi usaha dalam kondisi yang kurang memuaskan karena tidak adanya alternatif kredit. UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian bisa terpuruk jika masyarakat tidak memiliki pendapatan untuk menggerakkan perekonomian melalui konsumsi.
  • Jika krisis terus berlanjut dan terjadi PHK massal (PHK), maka UMKM pendukung sektor manufaktur akan kesulitan mendapatkan pesanan.

 

Upaya Meminimalisir Dampak Pelemahan Rupiah bagi UMKM

  • Meningkatkan proporsi penggunaan bahan baku lokal

Kualitas bahan baku lokal kini sudah sangat handal dan mampu menjadi pengganti bahan baku impor produk UMKM. Selain peluang penghematan biaya, penggunaan bahan baku lokal menunjukkan rasa hormat dan kecintaan terhadap produk lokal.

  • Memperluas jaringan

Lewatlah sudah zaman ketika para pelaku UMKM hanya fokus pada pasar dalam negeri. Kini saatnya memperluas jaringan sebagai basis pengembangan ekspor produk UMKM. Oleh karena itu, pelaku UMKM perlu belajar untuk lebih memahami tren pasar global dan teknik ekspor produk.

  • Meningkatkan produksi

Bagi perusahaan yang sudah berorientasi ekspor, saat ini adalah saat yang tepat untuk meningkatkan produksi. Tentunya hal ini juga harus dibarengi dengan perhitungan permintaan konsumen di luar negeri. Jika kita dapat memanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya, kita akan merasakan manfaat dari penguatan dolar dalam jangka panjang.

Di sisi lain, sebagian UMKM khususnya UMKM yang berorientasi ekspor justru pada situasi ini merupakan kesempatan yang bagus bagi mereka. Pemerintah sangat mendorong UKM jenis ini untuk meningkatkan kinerjanya. UMKM tidak boleh hanya fokus pada pasar dalam negeri, apalagi kita semua tahu bahwa UMKM mempunyai produk yang layak bersaing di pasar global.

Tentu saja hal ini tentu disertai dengan penggunaan bahan baku produksi yang tidak berasal dari impor. Hal ini akan dapat menguntungkan bagi barang-barang dalam negeri, karena dolar digunakan untuk transaksi di pasar dunia. Banyak UMKM yang memiliki kreativitas tinggi untuk menghasilkan produk berkualitas berdasarkan sumber daya kreatif dan budayanya, sehingga memungkinkan mereka memasuki pasar global. Oleh karena itu, UMKM yang juga bersaing di pasar global dapat lebih mampu bertahan dalam krisis dibandingkan UMKM yang tidak berpartisipasi di pasar global.

Article is not found
Article is not found