Dampak Kenaikan Suku Bunga Bank Indonesia terhadap Masyarakat

5 months ago | Johan Budi
article-sobat-pajak

Indonesia - Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate/BI 7DRRR) menjadi sebesar 3,75 persen pada 23 Agustus 2022 kemarin. Keputusan itu diambil karena lonjakan inflasi dan kebijakan moneter di beberapa negara dapat mengganggu proses pemulihan ekonomi.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengungkapkan dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) terhadap kehidupan masyarakat.

Jika nilai Rupiah menjadi lebih stabil karena arah kebijakan BI kedepannya yang lebih mempertimbangkan faktor global, maka ini akan memberikan sentimen positif. Namun jika suku bunga dinaikkan terus-menerus menurutnya dapat memberikan dampak negatif bagi laju perekonomian. Di lain sisi, dia menuturkan bahwa kebijakan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) bertujuan untuk mengantisipasi tren inflasi yang terus meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi dalam negeri hampir mencapai 5 persen atau tepatnya 4,94 persen secara tahunan pada Juli 2022.

Ekonom BNI Sekuritas Damhuri Nasution mengatakan, kenaikan suku bunga BI akan ikut menaikkan suku bunga simpanan dan pinjaman perbankan. Dalam catatan historis, perbankan cenderung cepat untuk meneruskan kenaikan bunga acuan BI kepada suku bunga pinjaman, sedangkan kenaikan bunga simpanan lebih lambat. Menurutnya, suku bunga pinjaman naik akan membuat biaya berusaha semakin mahal, karena beban biaya bunganya naik. Hal ini akan mengenai semua lapisan, mulai dari UMKM hingga konsumen. Konsumen yang memiliki kredit konsumsi, termasuk KPR di bank juga berpotensi membayar cicilan lebih mahal jika terjadi kenaikan bunga acuan. Namun, menurutnya kenaikan bunga sebesar 25 bps tidak akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Ketika BI menaikkan suku bunga acuan, maka suku bunga antar bank akan mengalami kenaikan. Suku bunga acuan ini menjadi patokan bagi bank dalam menetapkan bunga deposito dan kredit, termasuk kredit masyarakat, seperti KPR, kredit kendaraan bermotor, dan lain sebagainya. Kemudian, imbal hasil surat utang atau surat berharga juga mengikuti pergerakan bunga acuan BI.

Penetapan suku bunga acuan dilakukan BI guna mengelola likuiditas atau peredaran uang di dalam dan luar negeri. Hal ini bisa menekan inflasi. Dalam teori ekonomi, jumlah uang beredar akan mempengaruhi inflasi. Semakin banyak uang yang beredar, maka inflasi semakin tinggi. Sebaliknya, ketika jumlah uang yang beredar menurun, maka tingkat inflasi juga akan turun.

Tidak hanya itu, suku bunga acuan juga merupakan upaya BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Dengan menaikkan suku bunga acuan, bunga deposito dan imbal hasil surat berharga akan naik. Hal ini diharapkan investor asing mau menaruh uangnya di Indonesia. Investor akan menukarkan mata uangnya ke rupiah, sehingga rupiah akan menguat.

Article is not found
Article is not found